PENYELENGGARA HINDU MUNA BARAT SELAMAT DATANG DI BLOGGER PENYELENGGARA HINDU KANTOR KEMENTERIAN AGAMA KABUPATEN MUNA BARAT

23 Januari 2026

PEMBINAAN PEMANGKU

 


    Salam #SahabatReligi

    Om Swastyastu,

    Kamis 22 Januari 2026, bertempat di Pura Telaga Sari Desa Abadi Jaya Kecamatan Maginti Kabupaten Muna Barat, Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Muna Barat Putu Sulitra,S.Sos.H  melakukan bina Pemangku. Pada kegiatan ini dihadiri oleh semua Pemangku se-kabupaten Muna Barat  yang dimana kegiatan ini merupakan kegiatan rutin dari Organisasi PSN (Pinandita Sanggaraha Nusantara) dalam upaya penguatan kompetensi pelayan Umat Hindu.

        Usai kegiatan Pembinaan acara dilanjutkan dengan penanaman pohon sebagai implementasi Asta Protas Kementerian Agama RI, yakni Ekotheologi yang bertujuan menanamkan kesadaran pelestarian lingkungan melalui ajaran Agama yang sejalan dengan konsep Tri Hita Karana, dalam arahannya Putu Sulitra menyampaikan bahwa Pembinaan ini menjadi momentum memperkuat peran Pemangku dalam menjaga harmoni alam dan spiritual Umat.

Om Shanti,Shanti,Shanti Om






18 Januari 2026

Makna Hari Siwaratri Bagi Umat Hindu

Makna Hari Siwaratri Bagi Umat Hindu

#SalamsahabatReligi

Om Swastyastu,

    Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Muna Barat Putu Sulitra,S.Sos.H melaksanakan pembinaan dan penyuluhan dalam rangka  persembahyangan Bersama malam Siwaratri di Pura Dalem Wana Sari Desa Wapae Jaya Kecamatan tiworo Tengah Kabupaten Muna Barat, kurang lebih 87 orang peserta mengikuti kegiatan tersebut yang didampingi oleh ketua PERADAH (Perhimpunan Pemuda Hindu) Desa Wapae Jaya Wisnu Saputra, S.Pd, Ketua PHDI (Parisadha Hindu Dharma Indonesia) Desa Wapae Jaya Made Wastawa,S.Sos, Pengurus Adat Marga Yoga dan Jro Mangku setempat.

Melalui perayaan Hari Raya Siwaratri ini yang jatuh pada tanggal 17 Januari 2026 Putu Sulitra,S.Sos.H memberikan pesan Dharma dengan tema “Makna hari Suci Siwaratri Bagi Umat Hindu”

Secara etimologis, kata Siwaratri berasal dari bahasa Sanskerta yang terdiri dari dua suku kata, yaitu “Siwa” dan “Ratri”. Siwa merujuk pada Tuhan dalam aspeknya sebagai pelebur atau pralina, serta juga bermakna “yang memberikan kebaikan”. Sementara itu, Ratri memiliki arti “malam” atau “kegelapan”.

Jadi, secara harfiah Hari Raya Siwaratri dapat diartikan sebagai Malam Siwa. Dalam konteks astronomis dan kalender Hindu, hari suci ini selalu jatuh pada Purwaning Tilem Sasih Kapitu (sehari sebelum bulan mati pada bulan ketujuh). Dalam perhitungan musim, bulan ketujuh seringkali menjadi puncak musim hujan di mana langit tampak sangat gelap.

Kegelapan fisik alam semesta pada malam tersebut dimaknai sebagai simbol kegelapan batin atau Awidya (ketidaktahuan) yang menyelimuti jiwa manusia. Oleh karena itu, Hari Raya Siwaratri dianggap sebagai malam yang paling gelap, namun sekaligus menjadi momentum terbaik untuk menyalakan “pelita” kesadaran dalam diri. Umat Hindu meyakini bahwa pada malam ini, energi spiritual alam semesta sangat mendukung untuk melakukan meditasi dan peleburan sifat-sifat buruk dalam diri.

Tujuan utama dari perayaan ini bukanlah untuk meminta pengampunan dosa layaknya seorang terdakwa meminta bebas dari hukuman di pengadilan. Dalam teologi Hindu, hukum karma tetap berjalan. Makna Hari Raya Siwaratri lebih menitikberatkan pada penyadaran diri untuk melebur “kepapaan” atau kegelapan pikiran agar tidak mengulangi kesalahan yang sama di masa depan.

Ada beberapa poin penting mengenai makna spiritual dari hari suci ini :

  • Peleburan Kegelapan Batin
    Siwaratri adalah usaha manusia untuk menghilangkan Awidya (kebodohan/kegelapan) menuju Widya (pengetahuan/terang). Kegelapan hati adalah sumber dari segala penderitaan dan tindakan buruk.
  • Kisah Lubdaka
    Makna Siwaratri sering dikaitkan dengan kisah Lubdaka dari kakawin Siwaratrikalpa karya Mpu Tanakung. Lubdaka digambarkan sebagai seorang pemburu yang banyak membunuh binatang. Namun, karena ia melakukan brata (pantangan) secara tidak sengaja pada malam Siwaratri dengan tetap terjaga (Jagra) di atas pohon Bila dan menjatuhkan daunnya ke atas Lingga Siwa, ia mendapatkan pengampunan dan tempat yang layak di sisi Siwa.
  • Simbolisasi Jiwa
    Cerita tersebut adalah alegori. Lubdaka adalah simbol jiwa yang tersesat, hutan adalah duniawi, dan binatang buas adalah hawa nafsu. Hari Raya Siwaratri menjadi momen kembalinya kesadaran jiwa tersebut kepada Tuhan.

Tujuan akhirnya adalah mencapai kesucian diri (Atma Parisudha). Dengan hati dan pikiran yang bersih, umat Hindu diharapkan mampu menjalani kehidupan selanjutnya dengan lebih bijaksana, penuh dharma (kebenaran), dan terhindar dari perilaku asusila.

Om Shanti,Shanti, Shanti Om

16 Januari 2026

Visi dan Misi Satker Penyelenggara Hindu

VISI

Terwujudnya Masyarakat Hindu yang taat Beragama, Rukun, Cerdas, Mandiri dan Sejahterah Lahir Batin

  • Taat Beragama : Meningkatnya pemahaman dan pengamalan ajaran agama (Sradha dan Bhakti);
  • Rukun : Terciptanya keharmonisan internal umat Hindu maupun antar umat beragama (Moderasi Beragama);
  • Cerdas dan Mandiri : unggul dalam sumber daya manusia melalui Pendidikan keagamaan yang berkualitas.

MISI

Untuk mencapai Visi tersebut, Satker Penyelenggara Hindu menetapkan Langkah-langkah strategis sebagai berikut :

  • Meningkatkan kualitas pemahaman dan pengamalan ajaran agama melalui bimbingan masyarakat, penyuluhan dan peningkatan peran Lembaga keagamaan;
  • Memantapkan kerukunan umat beragama Memperkuat moderasi beragama dan toleransi untuk menjaga kerukunan antar umat;
  • Mengoptimalkan pengelolaan Pasraman (Formal/Non Formal ) dan Pendidikan Agama Hindu di sekolah umum;
  • Mengelola administrasi rumah ibadah (Pura), Lembaga Keagamaan, memverifikasi bantuan rumah  Ibadah (Pura) dan bantuan sosial keagamaan;
  • Meningkatkan kualitas tata Kelola Pemerintahan yang bersih, mewujudkan birokrasi dilingkungan Satker yang melayani, professional dan bebas korupsi.

Sejarah Berdirinya Penyelenggara Hindu

 

Om Swastyastu,

Sejarah berdirinya Satker Penyelenggara Hindu pada Kantor Kementerian Agama Kabupaten Muna Barat dilandasi oleh semangat untuk memberikan pelayanan yang lebih dekat dan prima kepada masyarakat. Didirikan dengan seiring perkembangan struktur organisasi Kementerian Agama, Satker ini lahir sebagai jawaban atas dinamika kebutuhan umat Hindu akan bimbingan keagamaan yang sistematis, mulai dari urusan penyuluhan, tata Kelola pura, hingga penguatan Pendidikan formal maupun Non-formal (Pasraman)  

Awal berdirinya Satker Penyelenggara Hindu ini yaitu pada tahun 2017 yang dimana dipimpin langsung oleh pejabat yang Bernama I Nyoman Rugeg,S.Ag, beliau menjabat di Satker Penyelenggara Hindu dari tahun 2017 sampai dengan 2024 (Pensiun). Kemudian dari awal tahun 2025 sampai sekarang Satker Penyelenggara Hindu di pimpin dengan Pelaksana Tugas atas nama Fajar Toona,Sag.,MA disamping menjadi Plt. Penyelenggara Hindu beliau juga menjabat sebagi Kasubbag TU Kantor Kementerian Agama Kabupaten Muna Barat.

Berdirinya Satker Penyelenggara Hindu merupakan wujud nyata kehadiran Negara dalam memberikan pelayanan, bimbingan, dan perlindungan bagi Umat Hindu guna mewujudkan kehidupan beragama yang harmonis di Kabupaten Muna Barat.

Sejarah pembentukan Satker Penyelenggara Hindu di Kabupaten Muna Barat berawal dari meningkatnya kebutuhan administrasi keagamaan, yang kemudian secara resmi dikukuhkan untuk menjalankan fungsi koordinasi urusan Agama dan Pendidikan keagamaan Hindu.

Terbentuknya Satker Penyelenggara Hindu ini tidak lepas dari aspirasi tokoh-tokoh Umat Hindu setempat yang menginginkan adanya wadah birokrasi yang efektif untuk menjembatani program pemerintah dengan kebutuhan di akar rumput.

Dari sebuah unit kecil yang bersifat koordinatif kini Satker Penyelenggara Hindu telah bertransformasi menjadi pilar utama Kementerian dalam membina Lembaga keagamaan, Penyuluh, serta Guru Agama Hindu demi peningkatan kualitas Sradha dan Bhakti.

Om Shanti,Shanti,Shanti Om

8 Oktober 2025

PERESMIAN PURA TELAGA SARI

 


Om Swastyastu,

Salam #SahabatReligi

Senin,06 Oktober 2025 Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Muna Barat, H.Khalifah didampingi Kepala Subbagian TU yang juga merangkap jabatan sebagai Plt. Penyelenggara Hindu, Fajar Toona dan beberapa rombongan staf dari Satuan Kerja Penyelenggara Hindu menghadiri undangan sekaligus meresmikan Pura telaga Sari yang berlokasi di Desa Abadi Jaya Kecamatan Maginti Kabupaten Muna Barat.

Acara peresmian Pura Telaga Sari ini turut dihadiri oleh Ketua Parisadha Hindu Dharma (PHDI) Kabupaten Muna Barat, Pemerintah Desa Abadi Jaya, Ketua Adat, Tokoh Umat dimasing-masing Desa lingkup Kabupaten Muna Barat serta masyarakat Hindu setempat, Kegiatan peresmian Pura Telaga Sari berjalan dengan lancar.

Dalam sambutan dan arahan dari Bapak Kepala Kantor Kementerian Agama beliau menyampaikan bahwa” kita harus bisa menjaga keharmonisan manusia dengan Tuhan, manusia dengan alam dan manusia dengan manusia” beliau juga menyampaikan “Pura Telaga Sari di Desa Abadi Jaya ini masih banyak memerlukan sentuhan bantuan-bantuan operasional agar rumah ibadah ini menjadi lebih baik lagi kedepannya, pada tahun ini Pura Telaga Sari mendapat Bantuan rehabilitasi Rumah Ibadah dari DIPA Satker Penyelenggara Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Muna Barat, beliau juga berharap semoga ditahun depan ada lagi bantuan Rehab Rumah Ibadah agar bisa disalurkan ke Pura (Rumah Ibadah Hindu) yang lain di Kabupaten Muna Barat”.

Om Shanti,Shanti,Shanti Om




25 September 2025

JAPA Mantra dan Do'a Bersama

 


Om Swastyastu

Kamis, 25 September 2025 bertempat diruang kerja Penyelenggara Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Muna Barat semua staf Penyelenggara Hindu yang berjumlah enam orang melakukan JAPA MANTRA dan Doa Bersama, kegiatan ini merupakan kegiatan rutin setiap hari kamis yang bertujuan untuk meningkatkan Sradha Bhakti dan keselamatan Bangsa dan Negara.

Om Shanti, Shanti, Shanti Om



31 Juli 2025

JAPA Mantra dan Doa Bersama

 

#Salam_SahabatReligi

Om Swastyastu, 

Suasana penuh Hidkmat dikantor Kementerian Agama Kabupaten Muna Barat, Kegiatan rutin setiap hari kamis Satker Penyelenggara Hindu melakukan kegiatan JAPA Mantra dan Doa Bersama diruangan Kerja Penyelenggara Hindu.

Kegiatan ini sebagai bagian dari upaya pembinaan spiritual, pelestarian nilai-nilai keagamaan dan meningkatkan Sradha dan Bhakti.

Om Shanti, Shanti, Shanti Om