#SalamsahabatReligi
Om Swastyastu,
Penyuluh
Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Muna Barat Putu Sulitra,S.Sos.H
melaksanakan pembinaan dan penyuluhan dalam rangka persembahyangan Bersama malam Siwaratri di Pura
Dalem Wana Sari Desa Wapae Jaya Kecamatan tiworo Tengah Kabupaten Muna Barat,
kurang lebih 87 orang peserta mengikuti kegiatan tersebut yang didampingi oleh
ketua PERADAH (Perhimpunan Pemuda Hindu) Desa Wapae Jaya Wisnu Saputra, S.Pd,
Ketua PHDI (Parisadha Hindu Dharma Indonesia) Desa Wapae Jaya Made
Wastawa,S.Sos, Pengurus Adat Marga Yoga dan Jro Mangku setempat.
Melalui
perayaan Hari Raya Siwaratri ini yang jatuh pada tanggal 17 Januari 2026 Putu
Sulitra,S.Sos.H memberikan pesan Dharma dengan tema “Makna hari Suci Siwaratri Bagi
Umat Hindu”
Secara etimologis, kata Siwaratri berasal dari bahasa Sanskerta
yang terdiri dari dua suku kata, yaitu “Siwa” dan “Ratri”. Siwa merujuk pada
Tuhan dalam aspeknya sebagai pelebur atau pralina, serta juga bermakna “yang
memberikan kebaikan”. Sementara itu, Ratri memiliki arti “malam” atau
“kegelapan”.
Jadi, secara harfiah Hari Raya Siwaratri
dapat diartikan sebagai Malam Siwa. Dalam konteks astronomis dan kalender
Hindu, hari suci ini selalu jatuh pada Purwaning Tilem Sasih Kapitu (sehari
sebelum bulan mati pada bulan ketujuh). Dalam perhitungan musim, bulan ketujuh
seringkali menjadi puncak musim hujan di mana langit tampak sangat gelap.
Kegelapan fisik alam semesta pada malam
tersebut dimaknai sebagai simbol kegelapan batin atau Awidya (ketidaktahuan)
yang menyelimuti jiwa manusia. Oleh karena itu, Hari Raya Siwaratri dianggap
sebagai malam yang paling gelap, namun sekaligus menjadi momentum terbaik untuk
menyalakan “pelita” kesadaran dalam diri. Umat Hindu meyakini bahwa pada malam
ini, energi spiritual alam semesta sangat mendukung untuk melakukan meditasi
dan peleburan sifat-sifat buruk dalam diri.
Tujuan utama dari
perayaan ini bukanlah untuk meminta pengampunan dosa layaknya seorang terdakwa
meminta bebas dari hukuman di pengadilan. Dalam teologi Hindu, hukum karma
tetap berjalan. Makna Hari Raya Siwaratri lebih menitikberatkan pada penyadaran
diri untuk melebur “kepapaan” atau kegelapan pikiran agar tidak mengulangi
kesalahan yang sama di masa depan.
Ada beberapa poin
penting mengenai makna spiritual dari hari suci ini :
- Peleburan Kegelapan Batin
Siwaratri adalah usaha manusia untuk menghilangkan Awidya
(kebodohan/kegelapan) menuju Widya (pengetahuan/terang). Kegelapan hati
adalah sumber dari segala penderitaan dan tindakan buruk.
- Kisah Lubdaka
Makna Siwaratri sering dikaitkan dengan kisah Lubdaka dari kakawin
Siwaratrikalpa karya Mpu Tanakung. Lubdaka digambarkan sebagai seorang
pemburu yang banyak membunuh binatang. Namun, karena ia melakukan brata
(pantangan) secara tidak sengaja pada malam Siwaratri dengan tetap terjaga
(Jagra) di atas pohon Bila dan menjatuhkan daunnya ke atas Lingga Siwa, ia
mendapatkan pengampunan dan tempat yang layak di sisi Siwa.
- Simbolisasi Jiwa
Cerita tersebut adalah alegori. Lubdaka adalah simbol jiwa yang tersesat,
hutan adalah duniawi, dan binatang buas adalah hawa nafsu. Hari Raya
Siwaratri menjadi momen kembalinya kesadaran jiwa tersebut kepada Tuhan.
Tujuan akhirnya
adalah mencapai kesucian diri (Atma Parisudha). Dengan hati dan pikiran
yang bersih, umat Hindu diharapkan mampu menjalani kehidupan selanjutnya dengan
lebih bijaksana, penuh dharma (kebenaran), dan terhindar dari perilaku asusila.
Om Shanti,Shanti, Shanti Om