PENYELENGGARA HINDU MUNA BARAT SELAMAT DATANG DI BLOGGER PENYELENGGARA HINDU KANTOR KEMENTERIAN AGAMA KABUPATEN MUNA BARAT

30 Juli 2025

Sosialisasi Pendirian Widyalaya & Penyerahan Bantuan Operasional Lembaga Hindu




 Salam #SahabatReligi

Om Swastyastu, 

Penyelenggara Hindu Kementerian Agama Kabupaten Muna Barat melakukan Sosialisasi tentang pendidikan formal Agama Hindu (Widyalaya) di Desa Suka Damai Kec. Tiworo tengah Kab. Muna Barat

        Muna Barat, 29 Juli 2025 - Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Muna Barat, H. Khalifah di dampingi dengan Plt. Penyelenggara Hindu yang sekaligus menjabat sebagai Kasubbag TU Kantor Kementerian Agama Kabupaten Muna Barat, Fajar Toona beserta staf Satker Penyelenggara Hindu hadir di Desa Suka Damai dalam rangka sosialisasi pendirian pendidikan formal Agama Hindu (Widyalaya) pertemuan ini membahas dan memperkuat kembali tentang Pendidikan formal Hindu (Widyalaya) dalam pembahasan sosialisasi ini mengacu pada Juknis Nomor 67 tahun 2024 tentang Pedoman Pengelolaan Widyalaya, Juknis 63 Tahun 2024 Juknis Pendirian Widyalaya oleh masyarakat, dan PMA No.2 Tahun 2024 tentang Penyelenggaraan Pendidikan Widyalaya.

        Pertemuan ini dihadiri oleh beberapa Lembaga Keagamaan Hindu yaitu Ketua Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Muna Barat, Ketua Lembaga Pengembangan Dharma Gita (LPDG) Kabupaten Muna Barat, Ketua PHDI di masing-masing Desa lingkup Kabupaten Muna Barat, ketua Adat di masing-masing Desa Lingkup Kabupaten Muna Barat, Lembaga WHDI di Desa Suka Damai dan tokoh-tokoh Umat Hindu yang berada di Lingkup Kabupaten Muna Barat, Dalam pertemuan ini sangat disambut baik oleh tokoh-tokoh Umat Hindu, Kepala Kantor dalam sambutannya menyampaikan bahwa pendirian Widyalaya merupakan salah satu bentuk komitmen dan wujud hadirnya pemerintah dalam mendukung penguatan Lembaga Pendidikan Keagamaan Hindu yang berorientasi pada peningkatan kualitas pendidikan spiritual lebih lanjut, beliau menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, tokog agama, dan masyarakat dalam mendukung keberadaan dan perkembangan lembaga pendidikan keagamaan Hindu di Muna Barat.

I Gusti Ngurah Suartana yakni selaku Ketua LPDG "sudah sejak lama menunggu momen yang seperti ini, dimana bukti Pemerintah sudah memperhatikan bagi umat minoritas terutama dibidang pendidikan formal" ujar beliau. 

        Pada kesempatan yang sama, dilakukan juga penyerahan secara simbolis bantuan dana operasional kepada PHDI dan LPDG kabupaten Muna Barat sebagai bentuk dukungan nyata terhadap program-program keagamaan dan pembinaan Umat. penyerahan Bantuan secara simbolis ini diterima langsung oleh Ketua PHDI dan Ketua LPDG Kabupaten Muna Barat, Ketua PHDI Kabupaten Muna Barat, Kadek Resana mengungkapkan apresiasi atas perhatian dan bantuan dari Kementerian Agama serta berharap dukungan ini terus berkelanjutan dalam rangka memperkuat moderasi beragama, mempererat kebersamaan, dan menjaga harmoni antar umat beragama di kabupaten muna barat  

 Om Shanti,Shanti,Shanti Om

24 Juli 2025

JAPA Mantra dan Do'a Bersama

 

 

#Salam_SahabatReligi

 Om Swastyastu,

            Suasana Penuh Hidkmat di Kantor Kementerian Agama Kabupaten Muna Barat, kegiatan rutin setiap hari kamis Satker Penyelenggara Hindu melakukan kegiatan JAPA Mantra dan Doa Bersama diruangan kerja Penyelenggara Hindu. 

            Kegiatan ini sebagai bagian dari upaya pembinaan spiritual, pelestarian nilai-nilai keagamaan dan meningkatkan sradha dan bhakti.

Om Shanti, Shanti, Shanti Om

Kamis, 24 Juli 2025 

17 Juli 2025

SOSIALISASI WIDYALAYA

 

Salam #SahabatReligi

Om Swastyastu, 

    Plt. Satker Penyelenggara Bimas Hindu Fajar Toona,S.Ag.,MA yang sekaligus Kasubbag TU Kantor Kementerian Agama Kabupaten Muna Barat menghimbau dan memberikan tugas kepada staf Penyelenggara Hindu yang berjumlah 6 orang yang dimana 1 orang sebagai Penyuluh Agama Hindu - Ahli Pertama, 1 orang Jabatan sebagai Penata Layanan Operasional, 1 orang Jabatan sebagai Pranata Komputer-Ahli Pertama, dan 3 orang sebagai Pengadministrasi Perkantoran.

    Dimana tugas yang diberikan yaitu mendirikan sekolah formal Hindu ( Widyalaya ), tugas tersebut telah dilaksanakan sesuai arahan dari Plt. Penyelenggara Hindu. Yang dimana awal pertama dilakukan yaitu melakukan sosialisasi ke-masing-masing Desa Adat lingkup Kabupaten Muna Barat, sosialisasi pertama dilakukan di Desa Kasimpa Jaya kecamatan Tiworo Selatan, dihari kedua dan ketiga melakukan sosialisasi di Desa Wulanga Jaya Kecamatan Tiworo Kepulauan dan Desa Wapae Jaya Kecamatan Tiworo Tengah dan di hari terakhir melakukan sosialisasi di Desa Suka Damai Kecamatan Tiworo Tengah, dimana pada saat melakukan sosialisasi tokoh-tokoh dimasing Desa tersebut sangat mendukung dan menyambut baik akan diadakannya Sekolah Formal Hindu ( Widyalaya ) semua tokoh Hindu siap membantu dan mengarahkan kemasing-masing Umat/Masyarakat nya di Desa setempat.

Om Shanti, Shanti, Shanti Om 

26 Juni 2025

JAPA MANTRA DAN DO'A BERSAMA PENYELENGGARA HINDU MUNA BARAT

 


        Salam #SahabatReligi

        Penyelenggara Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Muna Barat gelar JAPA Mantra dan Do'a Bersama untuk keselamatan Bangsa dan Negara, kegiatan ini sebagai bagian dari upaya pembinaan Spiritual dan Pelestarian  nilai-nilai Keagamaan.
kegiatan ini merupakan dari program rutin setiap hari kamis pada satker Bimas Hindu

Kamis, 26 Juni 2025

25 Juni 2025

JAPA Mantra dan Do'a Bersama

 


Salam #SahabatReligi

Satuan Kerja Penyelenggara Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Muna Barat perdana melaksanakan Kegiatan JAPA Mantra dan Do'a Bersama untuk keselamatan Bangsa dan Negara bertempat di Ruang Kerja Penyelenggara Hindu.

Kegiatan JAPA Mantra ini akan dilaksanakan setiap hari kamis pagi guna meningkatkan Sradha dan Bhakti dan memperdalam keimanan Jasmani dan Rohani.

kamis, 19 Juni 2025
  

25 Agustus 2016

Mantram Ista Dewata Berbasis Android

Gambaran Splash Aplikasi Mantram Ista Dewata Berbasis Android

Jika anda mau Download aplikasinya silahkan KLIK DISINI
jika sudah selesai download silahkan install aplikasinya, dengan cara mencentang Unknown sources pada settingan keamanan (security) di smartphone anda, agar aplikasi yang akan anda install bisa terbuka.....
Selamat Mencoba Gess

16 Februari 2016

MAKNA GALUNGAN DAN KUNINGAN

Menurut lontar Purana Bali Dwipa disebutkan :
"Punang aci galungan ika ngawit bu, ka, dungulan sasih kacatur tanggal 25, isaka 804, bangun indra bhuwana ikang bali rajya".

artinya :
"Perayaan hari raya suci Galungan pertama adalah pada hari Rabu Kliwon, wuku Dungulan sasih kapat tanggal 15 (purnama) tahun 804 saka, keadaan pulau Bali bagaikan lndra Loka".
Mulai tahun saka inilah hari raya Galungan terus dilaksanakan, kemudian tiba-tiba Galungan berhenti dirayakan entah dasar apa pertimbangannya, itu terjadi pada tahun 1103 saka saat Raja Sri Eka Jaya memegang tampuk pemerintahan sampai dengan pemerintahan Raja Sri Dhanadi tahun 1126 saka Galungan tidak dirayakan. Dan akhirnya Galungan baru dirayakan kembali pada saat Raja Sri Jaya Kasunu memerintah, merasa heran kenapa raja dan para pejabat yang memerintah sebelumnya selalu berumur pendek. Untuk mengetahui sebabnya beliau bersemedi dan mendapatkan pawisik dari Dewi Durgha menjelaskan pada raja, leluhumya selalu berumur pendek karena tidak merayakan Galungan, oleh karena itu Dewi Durgha meminta kembali agar Galungan dirayakan kembali sesuai dengan tradisi yang berlaku dan memasang penjor.

Rangkaian Hari Raya Galungan dan Kuningan
Persiapan perayan hari raya Galungan dimulai sejak Tumpek Wariga disebut juga Tumpek Bubuh, pada hari ini umat memohon kehadapan Sanghyang Sangkara, Dewanya tumbuh tumbuhan agar Beliau menganugrahkan supaya hasil pertanian meningkat. Setelah itu wrespati Sungsang adalah hari Sugihan Jawa merupakan pensucian bhuwana agung dilaksanakan dengan menghaturkan pesucian mererebu di Merajan, pekarangan, rumah serta menyucikan alat-alat untuk hari raya Galungan. Besoknya Sukra Kliwon Sungsang disebut hari Sugihan Bali, pada hari ini kita melaksanakan penyucian bhuwana alit, mengheningkan pikiran agar hening, heneng dan metirta gocara. Selanjutnya Redite Paing Dungulan disebut penyekeban.
Pada hari ini adalah hari turunnya Sang Kala Tiga Wisesa, maka pada hari ini para wiku dan widnyana meningkatkan pengendalian diri (anyekung adnyana). Besoknya Soma Pon Dungulan disebut penyajaan pada hari ini tetap menguji keteguhan sebagai bukti kesungguhan melakukan peningkatan kesucian diri seperti yoga semadi. Selanjutnya Anggara Wage Dungulan disebut penampahan melakukan bhuta yadnya ring catur pate atau lebuh di halaman rumah, agar tidak diganggu Sang Kala Tiga Wisesa. Besoknya Buda Kliwon Dungulan disebut Hari Raya Galungan umat Hindu melakukan pemujaan kepada Tuhan dengan segala manifestasi-Nya. Wrespati Umanis Dungulan disebut Manis Galungan, umat saling kunjung-mengunjungi dan maaf-memaafkan. Selanjutnya Saniscara Pon Dungulan disebut pemaridan guru pada hari ini umat melaksanakan tirta gocara, Redite Wage Kuningan disebut ulihan kembalinya Dewa dan Pitara kekahyangan.
Selanjutnya Soma Kliwon Kuningan disebut Pemacekan Agung Dewa beserta pengiringnya kembali dan sampai ketempat masing-masing. Sukra Wage Kuningan disebut Penampahan Kuningan adalah persiapan untuk menyambut hari Raya Kuningan. Besoknya Saniscara Kliwon Kuningan hari Raya Kuningan, pada hari ini umat Hindu memuja Tuhan dengan segala manifestasinya. Upacara menghaturkan saji hendaknya.dilaksanakan jangan sampai lewat tengah hari, mengapa ? Karena pada tengah hari para Dewata diceritakan kembali ke swarga. Kemudian yang paling akhir dari rangkaian hari raya Galungan yaitu Buda Kliwon Pahang disebut pegat uwakan akhir dari pada melakukan peberatan Galungan sebagai pewarah Dewi Durga kepada Sri Jaya Kasunu ditandai dengan mencabut penjor kemudian dibakar, abunya dimasukkan kedalam bungkak gading ditanam di pekarangan.

Makna Hari Raya Galungan dan Kuningan
Dharma dan Adharma Pada hari raya suci Galungan dan Kuningan umat Hindu secara ritual dan spiritual melaksanakannya dengan suasana hati yang damai. Pada hakekatnya hari raya suci Galungan dan Kuningan yang telah mengumandang di masyarakat adalah kemenangan dharma melawan adharma. Artinya dalam konteks tersebut kita hendaknya mampu instrospeksi diri siapa sesungguhnya jati diri kita, manusia yang dikatakan dewa ya, manusa ya, bhuta ya itu akan selalu ada dalam dirinya. Bagaimana cara menemukan hakekat dirinya yang sejati?, "matutur ikang atma ri jatinya" (Sanghyang Atma sadar akan jati dirinya).
Hal ini hendaknya melalui proses pendakian spiritual menuju kesadaran yang sejati, seperti halnya hari Raya Galungan dan Kuningan dari hari pra hari H, hari H dan pasca hari H manusia bertahan dan tetap teguh dengan kesucian hati digoda oleh Sang Kala Tiga Wisesa, musuh dalam dirinya, di dalam upaya menegakkan dharma didalam dirinya maupun diluar dirinya. Sifat-sifat adharma (bhuta) didalam dirinya dan diluar dirinya disomya agar menjadi dharma (Dewa), sehingga dunia ini menjadi seimbang (jagadhita). Dharma dan adharma, itu dua kenyataan yang berbeda (rwa bhineda) yang selalu ada didunia, tapi hendaknyalah itu diseimbangkan sehingga evolusi didunia bisa berjalan.
Kemenangan dharma atas adharma yang telah dirayakan setiap Galungan dan Kuningan hendaknyalah diserap dan dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari. Dharma tidaklah hanya diwacanakan tapi dilaksanakan, dalam kitab Sarasamuccaya (Sloka 43) disebutkan keutamaan dharma bagi orang yang melaksanakannya yaitu :
"Kuneng sang hyang dharma, mahas midering sahana, ndatan umaku sira, tan hanenakunira, tan sapa juga si lawanikang naha-nahan, tatan pahi lawan anak ning stri lanji, ikang tankinawruhan bapanya, rupaning tan hana umaku yanak, tan hana inakunya bapa, ri wetnyan durlaba ikang wenang mulahakena dharma kalinganika".

Artinya:
Adapun dharma itu, menyelusup dan mengelilingi seluruh yang ada, tidak ada yang mengakui, pun tidak ada yang diakuinya, serta tidak ada yang menegur atau terikat dengan sesuatu apapun, tidak ada bedanya dengan anak seorang perempuan tuna susila, yang tidak dikenal siapa bapaknya, rupa-rupanya tidak ada yang mengakui anak akan dia, pun tidak ada yang diakui bapa olehnya, perumpamaan ini diambil sebab sesungguhnya sangat sukar untuk dapat mengetahui dan melaksanakan dharma itu.
Di samping itu pula dharma sangatlah utama dan rahasia, hendaknyalah ia dicari dengan ketulusan hati secara terus-menerus. Sarasamuccaya (sloka 564) menyebutkan :
"Lawan ta waneh, atyanta ring gahana keta sanghyang dharma ngaranira, paramasuksma, tan pahi lawan tapakning iwak ring wwai, ndan pinet juga sire de sang pandita, kelan upasama pagwan kotsahan".
Artinya:
Lagi pula terlampau amat mulia dharma itu, amat rahasia pula, tidak bedanya dengan jejak ikan didalam air, namun dituntut juga oleh sang pandita dengan ketenangan, kesabaran, keteguhan hati terus diusahakan.
Demikianlah keutamaan dharma hendaknyalah diketahui, dipahami kemudian dilaksanakan sehingga menemukan siapa sesungguhnya jati diri kita. (WHD No. 436 Juni 2003).


Macam - Macam Galungan
A. Galungan
Di dalam lontar Sundarigama menyebutkan pada Buda Kliwon wuku Dungulan disebut hari raya Galungan.
B. Galungan Nadi
Apabila Galungan jatuh pada bulan Purnama disebut Galungan Nadi, umat Hindu melaksanakan tingkatan upacara yang lebih utama. Berdasarkan Lontar Purana Bali Dwipa bahwa Galungan jatuh pada sasih kapat (kartika) tanggal 15 (purnama) tahun 804 saka Bali bagaikan lndra Loka ini menandakan betapa meriahnya dan sucinya hari raya itu.
C. Galungan Naramangsa.
Dalam Lontar Sanghyang Aji Swamandala mengenai Galungan Naramangsa disebutkan apabila Galungan jatuh pada Tilem Kapitu dan sasih Kasanga rah 9, tengek 9, tidak dibenarkan merayakan hari raya Galungan dan menghaturkan sesajen berisi tumpeng seyogyanya umat mengadakan caru berisi nasi cacahan dicampur ubi keladi, bila melanggar akan diserbu oleh Balagadabah.


sumber :
Parisada Hindu Dharma Indonesia