PENYELENGGARA HINDU MUNA BARAT SELAMAT DATANG DI BLOGGER PENYELENGGARA HINDU KANTOR KEMENTERIAN AGAMA KABUPATEN MUNA BARAT

30 Mei 2026

Visitasi Ijin Pendirian dan Operasional Pratama Widyalaya Aksara Genitri Muna Barat

 

Muna Barat, Jumat 29 Mei 2026 – Harapan hadirnya satuan pendidikan Hindu di wilayah kepulauan Provinsi Sulawesi Tenggara semakin mendekati kenyataan. Tim Visitasi dari Subdit Pendidikan Dasar, Ditjen Bimas Hindu Kementerian Agama RI yang dipimpin langsung oleh Kasubdit Pendidikan Dasar, Dewa Agung Raditya, S.Ag., bersama tim yang terdiri dari Putu Arya Dharma, Made Sudana, dan Gunadi, melaksanakan visitasi izin pendirian dan operasional Pratama Widyalaya Aksara Genitri, Desa Wulanga Jaya, Kecamatan Tiworo Kepulauan Kabupaten Muna Barat, secara daring.

Kegiatan visitasi turut didampingi oleh Pembimas Hindu Kanwil Kemenag Sulawesi Tenggara, I Komang Sukeyasa, S.E., Pelaksana Kadek Yogiarta, serta Plt. Penyelenggara Hindu Kantor Kemenag Kabupaten Muna Barat, Fajar Toona, S.Ag.,MA Pada awal visitasi, Plt. Penyelenggara Hindu Kabupaten Muna Barat menyampaikan apresiasi dan dukungan penuh terhadap pendirian widyalaya yang menurutnya telah lama dinantikan masyarakat Hindu di Muna Barat. Berbekal pengalaman dalam mengelola satuan pendidikan madrasah, pihak Kemenag Muna Barat bersama Bimas Hindu Kanwil Kemenag Sulawesi Tenggara melakukan komunikasi dan sosialisasi kepada umat Hindu setempat hingga akhirnya proses pengajuan dapat berjalan. Ia menegaskan bahwa Kementerian Agama Kabupaten Muna Barat mendukung dan mengawal proses sejak awal pengajuan berkas hingga pelaksanaan visitasi.

Selanjutnya, Tim Visitasi melakukan konfirmasi terhadap berbagai dokumen dan kesiapan dukungan yang dimulai dari Ketua Yayasan Widya Dharma Wulanga Jaya. Dalam kesempatan tersebut, yayasan menyatakan kesiapan penuh untuk menyelenggarakan operasional pendidikan pada Pratama Widyalaya Aksara Genitri, termasuk kesiapan pembiayaan, sumber pendukung pendanaan, ketersediaan guru dan tenaga kependidikan (GTK), serta komitmen terhadap peningkatan kompetensi tenaga pendidik.

Tim juga melakukan pendalaman kepada calon pengelola, khususnya calon kepala sekolah, Kadek Ardika, S.Ag., terkait kesiapan, kualifikasi akademik, kompetensi, dan pengalaman mengelola satuan pendidikan. Dengan penuh keyakinan, ia menyatakan siap memimpin dan mengembangkan widyalaya yang akan berdiri di Kabupaten Muna Barat tersebut. Dari sisi peserta didik, kesiapan juga terlihat cukup menggembirakan. Berdasarkan data yang disampaikan, telah terdapat 24 calon siswa baru yang siap diterima pada Tahun Ajaran 2026/2027. Tidak hanya itu, dukungan sarana dan prasarana turut diperlihatkan kepada tim, mulai dari papan nama Pratama Widyalaya, ruang kelas lengkap beserta kursi belajar, ruang guru, hingga Alat Permainan Edukatif (APE) dalam dan luar ruangan yang telah tersedia. Suasana visitasi semakin meyakinkan ketika Tim Subdit Pendidikan Dasar melakukan konfirmasi langsung kepada orang tua calon siswa. Tim visitasi bahkan menyampaikan bahwa baru pertama kali dalam pelaksanaan visitasi izin operasional mereka mendapati kehadiran orang tua calon siswa secara aktif. Kehadiran tersebut dinilai menjadi bukti nyata tingginya harapan dan dukungan masyarakat terhadap berdirinya Pratama Widyalaya Aksara Genitri di Muna Barat. Pembimas Hindu Kanwil Kemenag Sulawesi Tenggara, I Komang Sukeyasa, S.E., dalam keterangannya menyatakan dukungan penuh terhadap pendirian widyalaya tersebut. Menurutnya, kehadiran Pratama Widyalaya Aksara Genitri merupakan momentum yang telah lama dinantikan, terlebih karena akan menjadi widyalaya pertama di wilayah kepulauan Sulawesi Tenggara. Beliau menjelaskan bahwa berkas permohonan telah diterima sejak Januari 2026, namun terdapat beberapa dokumen mendasar yang masih perlu dilengkapi, terutama terkait OSS, NIB, dan status tanah milik yayasan. Setelah seluruh persyaratan dinyatakan lengkap, Bimas Hindu Kanwil Kemenag Sulawesi Tenggara segera memberikan rekomendasi dan meneruskan berkas ke Direktorat Jenderal Bimas Hindu untuk diproses lebih lanjut hingga tahap visitasi. “Jika izin operasional ini terbit, maka jumlah widyalaya di Sulawesi Tenggara akan bertambah satu, dari 14 menjadi 15 widyalaya. Ini tentu menjadi tonggak penting bagi penguatan layanan pendidikan Hindu, khususnya di wilayah kepulauan,” ujarnya. Ia juga berharap Ditjen Bimas Hindu dapat segera memproses penerbitan izin operasional sehingga Pratama Widyalaya Aksara Genitri dapat mulai beroperasi pada Tahun Ajaran 2026/2027.



28 April 2026

JAPA MANTRA dan DO'A Bersama Penyelenggara Hindu Muna Barat


Om Swastyastu,

  Salam #SahabatReligi

        Penyelenggara Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Muna Barat melaksanakan JAPA Mantra dan Do'a Bersama bertempat diruangan kerja Penyelenggara Hindu kegiatan ini bertujuan untuk keselamatan Bangsa dan Negara, dan sebagai bagian dari upaya pembinaan Spiritual dan Pelestarian  nilai-nilai Keagamaan.


Om Shanti, Shanti, Shanti Om


20 April 2026

Memaknai Hari Tumpek Landep

 

Om Swastyastu,

"Perayaan hari Tumpek Landep"

    Hari Tumpek Landep adalah hari raya Hindu di Bali (setiap 210 hari pada Sabtu Kliwon Landep) untuk memuja Ida Sanghyang Widhi Wasa dalam manifestasinya sebagai Sang Hyang Siwa Pasupati. Makna utamanya adalah nglandepang idep (menajamkan pikiran/intelek) agar manusia selalu menggunakan akal budi, kebijaksanaan, dan ilmu pengetahuan dengan landasan nilai agama. 

Berikut adalah poin-poin penting makna Tumpek Landep:

  • Penyucian Pikiran: Secara filosofis, ini adalah momen untuk mengasah pikiran agar jernih, tajam, dan bijaksana dalam membedakan hal baik dan buruk.
  • Pemujaan Sang Hyang Pasupati: Memohon agar segala benda tajam atau alat kerja yang berbahan besi/logam diberikan kekuatan "bertuah" oleh Sang Hyang Siwa Pasupati.
  • Wujud Syukur: Penghormatan dan wujud syukur atas teknologi, alat, maupun kendaraan yang mempermudah kehidupan manusia.
  • Makna Praktis (Tradisi): Upacara ngupacarai (memberi banten/sesaji) pada alat kerja, senjata (keris/tombak), dan alat transportasi seperti motor atau mobil. 

Secara ringkas, Tumpek Landep mengingatkan umat untuk tidak hanya menajamkan benda fisik, tetapi yang terpenting menajamkan pikiran (intelektual) demi kesejahteraan manusia. Jika kita kaitkan dari rangkaian hari suci yang berhubungan dengan tumpek Landep, adalah hari suci Saraswati sebagai makna turunnya ilmu pengetahuan, lalu hari suci Pagerwesi dengan makna sebagi benteng spiritual yang kokoh melalui penyucian pikiran sebagai bentuk pemujaan kepada Sang Hyang Pramesti Guru.

    Ilmu pengetahuan yang berikan oleh guru jika tidak kita sucikan dengan perbauatan-perbuatan yang bijak, lalu salah menggunakan, maka akan menjadi sebuah malapetaka yang membawa kehancuran bagi dunia. Maka ilmu pengetahuan itu perlu kita pertajam agar ilmu itu menjadi sebuah anugerah yang beramanfaat bagi kemakmuran dunia sehingga dapat mempermudah manusia dalam menjalani aktifitas keseharian seperti banyak karya dari sebuah pikiran yang kita manfaatkan hari ini dalam bentuk tekhnologi dan lain sebagainya, itu semua bersumber pada pikiran yang suci.

Om Shanti, Shanti, Shanti Om

2 April 2026

PENTAS SENI & BUDAYA FESTIVAL OGOH-OGOH XI

 


"Menjelang Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948"
            Om Swastyastu,
 
            Bertempat di lapangan Desa Kasimpa Jaya Kecamatan Tiworo Selatan kabupaten Muna Barat Organisasi Lembaga Hindu Dewan Pimpinan Kabupaten Perhimpunan Pemuda Hindu (DPK PERADAH) Muna Barat melaksanakan kegiatan Pentas Seni & Budaya Festival Ogoh-ogoh yang merupakan agenda tahunan kegiatan DPK PERADAH Muna Barat.
Kegiatan ini di hadiri oleh Bupati Muna Barat La Ode Darwin beserta jajaran OPD, hadir pula Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten yang diwakili oleh Kasubbag TU Fajar Toona, pada kegiatan berlangsung Bupati Muna Barat Menyampaikan apresiasi kepada penyelenggara kegiatan dan beliau juga menyampaikan akan membantu anggaran pendanaan festival ogoh-ogoh untuk masing-masing desa yang ada kabupaten muna barat agar mereka bisa ikut dan memeriahkan kegiatan festival ogoh-ogoh di tahun depan.
       Ketua DPK PERADAH Kab. Muna Barat, Wawan Dedi Ariawan dalam sambutannya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak sehingga festival ogoh-ogoh yang ke IX dapat berlangsung dan berjalan dengan lancar, Wawan juga menyampaikan untuk tahun depan akan menambah personil kegiatan dimasing-masing desa agar kegiatan festival ogoh-ogoh lebih rame dan meriah.
            Om Shanti, Shanti, Shanti Om


   

8 Februari 2026

Green Dharma, Bhakti Pertiwi Untuk Nusantara Jaya



Rangkaian Perayaan Hari Suci Tumpek Uye Umat Hindu Muna Barat"

Salam #SahabatReligi...

Om Swastyastu

Bertempat di Halaman Pura dan Embung Desa Kasimpa Jaya, Kec. Tiworo Selatan, Kepala Kantor Kementerian Agama Kab. Muna Barat, H. Khalifah bersama dengan Kepala Sub Bagian Tata Usaha Yang juga Plt. Penyelenggara Hindu, Fajar Toona melaksanakan kegiatan pelepasan ikan sebagai simbol penghormatan dan kasih sayang terhadap Satwa serta penanaman pohon sebagai komitmen untuk menjaga kelestarian alam. Sabtu, 7/02/2026.

Kegiatan ini Dalam rangka perayaan Hari Suci Tumpek Uye,   dengan  tema “Green Dharma Bhakti Pertiwi untuk Nusantara Jaya” sebagi wujud nyata penguatan Ekoteologi, khususnya dalam ajaran Hindu yang menekankan keharmonisan hubungan antara manusia, alam, dan Tuhan, pada kegiatan ini Satker Penyelenggara Hindu menanam berbagai jenis tanaman yang berjumlah 25 pohon dan bibit ikan sebanyak 4 kg.

Rangkaian kegiatan perayaan Tumpek Uye diisi dengan berbagai aksi kepedulian terhadap lingkungan  yang dilakukan di tempat-tempat Ibadah Umat Hindu di wilayah Muna Barat  dengan melibatkan ASN Penyelenggara Hindu Kantor Kemenag Muna Barat, Jajaran Pengurus Adat Desa dan PHDI Desa.

Om Shanti, Shanti, Shanti Om

#BimasHindu #GreenDharma

#MerawatBumi #BhaktiPertiwiUntukNusantaraJaya

#DharmaUntukBumi

Link Video Youtube dibawah


24 Januari 2026

Koordinasi Kelanjutan Widyalaya di Desa Wulanga Jaya

 

        Salam #SahabatReligi

        Om Swastyastu,

        Jumat 23 Januari 2026 bertempat di Pasraman Widya Saraswati Desa Wulanga Jaya Kecamatan Tiworo Kepulauan,  Penata Layanan Operasional Penyelenggara Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Muna Barat I Putu Sudiartawan beserta Penyuluh Agama Hindu Putu Sulitra melaksanakan koordinasi terkait keberlanjutan dari sosialisasi Widyalaya di Kabupaten Muna Barat, pada pertemuan tersebut hadir pula pengurus Yayasan Widya Dharma Wulanga Jaya serta pengurus Pratama Widyalaya Aksara Genitri sebagai bentuk sinergi dan pendampingan.

        koordinasi dilakukan sebagai upaya dalam mempersiapkan persyaratan yang meliputi tiga aspek, seperti administrasi, teknis, hingga kelayakan dalam mendirikan Widyala, melalui kegiatan ini diharapkan seluruh aspek kebutuhan dapat dipersiapkan secara optimal sehingga Pratama Widyalaya Aksara Genitri dapat menjalankan fungsi pendidikan keagamaan Hindu dengan baik dan memberikan layanan pendidikan yang aman, nyaman serta berkualitas bagi peserta didik di wilayah Muna Barat.

        pada pertemuan kali ini semua pengurus Widyalaya maupun pengurus Lembaga Adat Desa Wulanga Jaya sangat antusias sekali mengenai adanya sekolah formal Hindu, Adat Desa Wulanga Jaya Kadek Mertadana menyampaikan sangat bersyukur di kabupaten Muna Barat khususnya didesa Wulanga Jaya terpilih menjadi tempat akan didirikannya sekolah formal Hindu tingkat TK/PAUD (Pratama Widyalaya) 

Om Shanti,Shanti,Shanti Om



23 Januari 2026

PEMBINAAN PEMANGKU

 


    Salam #SahabatReligi

    Om Swastyastu,

    Kamis 22 Januari 2026, bertempat di Pura Telaga Sari Desa Abadi Jaya Kecamatan Maginti Kabupaten Muna Barat, Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Muna Barat Putu Sulitra,S.Sos.H  melakukan bina Pemangku. Pada kegiatan ini dihadiri oleh semua Pemangku se-kabupaten Muna Barat  yang dimana kegiatan ini merupakan kegiatan rutin dari Organisasi PSN (Pinandita Sanggaraha Nusantara) dalam upaya penguatan kompetensi pelayan Umat Hindu.

        Usai kegiatan Pembinaan acara dilanjutkan dengan penanaman pohon sebagai implementasi Asta Protas Kementerian Agama RI, yakni Ekotheologi yang bertujuan menanamkan kesadaran pelestarian lingkungan melalui ajaran Agama yang sejalan dengan konsep Tri Hita Karana, dalam arahannya Putu Sulitra menyampaikan bahwa Pembinaan ini menjadi momentum memperkuat peran Pemangku dalam menjaga harmoni alam dan spiritual Umat.

Om Shanti,Shanti,Shanti Om






18 Januari 2026

Makna Hari Siwaratri Bagi Umat Hindu

Makna Hari Siwaratri Bagi Umat Hindu

#SalamsahabatReligi

Om Swastyastu,

    Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Muna Barat Putu Sulitra,S.Sos.H melaksanakan pembinaan dan penyuluhan dalam rangka  persembahyangan Bersama malam Siwaratri di Pura Dalem Wana Sari Desa Wapae Jaya Kecamatan tiworo Tengah Kabupaten Muna Barat, kurang lebih 87 orang peserta mengikuti kegiatan tersebut yang didampingi oleh ketua PERADAH (Perhimpunan Pemuda Hindu) Desa Wapae Jaya Wisnu Saputra, S.Pd, Ketua PHDI (Parisadha Hindu Dharma Indonesia) Desa Wapae Jaya Made Wastawa,S.Sos, Pengurus Adat Marga Yoga dan Jro Mangku setempat.

Melalui perayaan Hari Raya Siwaratri ini yang jatuh pada tanggal 17 Januari 2026 Putu Sulitra,S.Sos.H memberikan pesan Dharma dengan tema “Makna hari Suci Siwaratri Bagi Umat Hindu”

Secara etimologis, kata Siwaratri berasal dari bahasa Sanskerta yang terdiri dari dua suku kata, yaitu “Siwa” dan “Ratri”. Siwa merujuk pada Tuhan dalam aspeknya sebagai pelebur atau pralina, serta juga bermakna “yang memberikan kebaikan”. Sementara itu, Ratri memiliki arti “malam” atau “kegelapan”.

Jadi, secara harfiah Hari Raya Siwaratri dapat diartikan sebagai Malam Siwa. Dalam konteks astronomis dan kalender Hindu, hari suci ini selalu jatuh pada Purwaning Tilem Sasih Kapitu (sehari sebelum bulan mati pada bulan ketujuh). Dalam perhitungan musim, bulan ketujuh seringkali menjadi puncak musim hujan di mana langit tampak sangat gelap.

Kegelapan fisik alam semesta pada malam tersebut dimaknai sebagai simbol kegelapan batin atau Awidya (ketidaktahuan) yang menyelimuti jiwa manusia. Oleh karena itu, Hari Raya Siwaratri dianggap sebagai malam yang paling gelap, namun sekaligus menjadi momentum terbaik untuk menyalakan “pelita” kesadaran dalam diri. Umat Hindu meyakini bahwa pada malam ini, energi spiritual alam semesta sangat mendukung untuk melakukan meditasi dan peleburan sifat-sifat buruk dalam diri.

Tujuan utama dari perayaan ini bukanlah untuk meminta pengampunan dosa layaknya seorang terdakwa meminta bebas dari hukuman di pengadilan. Dalam teologi Hindu, hukum karma tetap berjalan. Makna Hari Raya Siwaratri lebih menitikberatkan pada penyadaran diri untuk melebur “kepapaan” atau kegelapan pikiran agar tidak mengulangi kesalahan yang sama di masa depan.

Ada beberapa poin penting mengenai makna spiritual dari hari suci ini :

  • Peleburan Kegelapan Batin
    Siwaratri adalah usaha manusia untuk menghilangkan Awidya (kebodohan/kegelapan) menuju Widya (pengetahuan/terang). Kegelapan hati adalah sumber dari segala penderitaan dan tindakan buruk.
  • Kisah Lubdaka
    Makna Siwaratri sering dikaitkan dengan kisah Lubdaka dari kakawin Siwaratrikalpa karya Mpu Tanakung. Lubdaka digambarkan sebagai seorang pemburu yang banyak membunuh binatang. Namun, karena ia melakukan brata (pantangan) secara tidak sengaja pada malam Siwaratri dengan tetap terjaga (Jagra) di atas pohon Bila dan menjatuhkan daunnya ke atas Lingga Siwa, ia mendapatkan pengampunan dan tempat yang layak di sisi Siwa.
  • Simbolisasi Jiwa
    Cerita tersebut adalah alegori. Lubdaka adalah simbol jiwa yang tersesat, hutan adalah duniawi, dan binatang buas adalah hawa nafsu. Hari Raya Siwaratri menjadi momen kembalinya kesadaran jiwa tersebut kepada Tuhan.

Tujuan akhirnya adalah mencapai kesucian diri (Atma Parisudha). Dengan hati dan pikiran yang bersih, umat Hindu diharapkan mampu menjalani kehidupan selanjutnya dengan lebih bijaksana, penuh dharma (kebenaran), dan terhindar dari perilaku asusila.

Om Shanti,Shanti, Shanti Om

16 Januari 2026

Visi dan Misi Satker Penyelenggara Hindu

VISI

Terwujudnya Masyarakat Hindu yang taat Beragama, Rukun, Cerdas, Mandiri dan Sejahterah Lahir Batin

  • Taat Beragama : Meningkatnya pemahaman dan pengamalan ajaran agama (Sradha dan Bhakti);
  • Rukun : Terciptanya keharmonisan internal umat Hindu maupun antar umat beragama (Moderasi Beragama);
  • Cerdas dan Mandiri : unggul dalam sumber daya manusia melalui Pendidikan keagamaan yang berkualitas.

MISI

Untuk mencapai Visi tersebut, Satker Penyelenggara Hindu menetapkan Langkah-langkah strategis sebagai berikut :

  • Meningkatkan kualitas pemahaman dan pengamalan ajaran agama melalui bimbingan masyarakat, penyuluhan dan peningkatan peran Lembaga keagamaan;
  • Memantapkan kerukunan umat beragama Memperkuat moderasi beragama dan toleransi untuk menjaga kerukunan antar umat;
  • Mengoptimalkan pengelolaan Pasraman (Formal/Non Formal ) dan Pendidikan Agama Hindu di sekolah umum;
  • Mengelola administrasi rumah ibadah (Pura), Lembaga Keagamaan, memverifikasi bantuan rumah  Ibadah (Pura) dan bantuan sosial keagamaan;
  • Meningkatkan kualitas tata Kelola Pemerintahan yang bersih, mewujudkan birokrasi dilingkungan Satker yang melayani, professional dan bebas korupsi.

Sejarah Berdirinya Penyelenggara Hindu

 

Om Swastyastu,

Sejarah berdirinya Satker Penyelenggara Hindu pada Kantor Kementerian Agama Kabupaten Muna Barat dilandasi oleh semangat untuk memberikan pelayanan yang lebih dekat dan prima kepada masyarakat. Didirikan dengan seiring perkembangan struktur organisasi Kementerian Agama, Satker ini lahir sebagai jawaban atas dinamika kebutuhan umat Hindu akan bimbingan keagamaan yang sistematis, mulai dari urusan penyuluhan, tata Kelola pura, hingga penguatan Pendidikan formal maupun Non-formal (Pasraman)  

Awal berdirinya Satker Penyelenggara Hindu ini yaitu pada tahun 2017 yang dimana dipimpin langsung oleh pejabat yang Bernama I Nyoman Rugeg,S.Ag, beliau menjabat di Satker Penyelenggara Hindu dari tahun 2017 sampai dengan 2024 (Pensiun). Kemudian dari awal tahun 2025 sampai sekarang Satker Penyelenggara Hindu di pimpin dengan Pelaksana Tugas atas nama Fajar Toona,Sag.,MA disamping menjadi Plt. Penyelenggara Hindu beliau juga menjabat sebagi Kasubbag TU Kantor Kementerian Agama Kabupaten Muna Barat.

Berdirinya Satker Penyelenggara Hindu merupakan wujud nyata kehadiran Negara dalam memberikan pelayanan, bimbingan, dan perlindungan bagi Umat Hindu guna mewujudkan kehidupan beragama yang harmonis di Kabupaten Muna Barat.

Sejarah pembentukan Satker Penyelenggara Hindu di Kabupaten Muna Barat berawal dari meningkatnya kebutuhan administrasi keagamaan, yang kemudian secara resmi dikukuhkan untuk menjalankan fungsi koordinasi urusan Agama dan Pendidikan keagamaan Hindu.

Terbentuknya Satker Penyelenggara Hindu ini tidak lepas dari aspirasi tokoh-tokoh Umat Hindu setempat yang menginginkan adanya wadah birokrasi yang efektif untuk menjembatani program pemerintah dengan kebutuhan di akar rumput.

Dari sebuah unit kecil yang bersifat koordinatif kini Satker Penyelenggara Hindu telah bertransformasi menjadi pilar utama Kementerian dalam membina Lembaga keagamaan, Penyuluh, serta Guru Agama Hindu demi peningkatan kualitas Sradha dan Bhakti.

Om Shanti,Shanti,Shanti Om

8 Oktober 2025

PERESMIAN PURA TELAGA SARI

 


Om Swastyastu,

Salam #SahabatReligi

Senin,06 Oktober 2025 Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Muna Barat, H.Khalifah didampingi Kepala Subbagian TU yang juga merangkap jabatan sebagai Plt. Penyelenggara Hindu, Fajar Toona dan beberapa rombongan staf dari Satuan Kerja Penyelenggara Hindu menghadiri undangan sekaligus meresmikan Pura telaga Sari yang berlokasi di Desa Abadi Jaya Kecamatan Maginti Kabupaten Muna Barat.

Acara peresmian Pura Telaga Sari ini turut dihadiri oleh Ketua Parisadha Hindu Dharma (PHDI) Kabupaten Muna Barat, Pemerintah Desa Abadi Jaya, Ketua Adat, Tokoh Umat dimasing-masing Desa lingkup Kabupaten Muna Barat serta masyarakat Hindu setempat, Kegiatan peresmian Pura Telaga Sari berjalan dengan lancar.

Dalam sambutan dan arahan dari Bapak Kepala Kantor Kementerian Agama beliau menyampaikan bahwa” kita harus bisa menjaga keharmonisan manusia dengan Tuhan, manusia dengan alam dan manusia dengan manusia” beliau juga menyampaikan “Pura Telaga Sari di Desa Abadi Jaya ini masih banyak memerlukan sentuhan bantuan-bantuan operasional agar rumah ibadah ini menjadi lebih baik lagi kedepannya, pada tahun ini Pura Telaga Sari mendapat Bantuan rehabilitasi Rumah Ibadah dari DIPA Satker Penyelenggara Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Muna Barat, beliau juga berharap semoga ditahun depan ada lagi bantuan Rehab Rumah Ibadah agar bisa disalurkan ke Pura (Rumah Ibadah Hindu) yang lain di Kabupaten Muna Barat”.

Om Shanti,Shanti,Shanti Om




25 September 2025

JAPA Mantra dan Do'a Bersama

 


Om Swastyastu

Kamis, 25 September 2025 bertempat diruang kerja Penyelenggara Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Muna Barat semua staf Penyelenggara Hindu yang berjumlah enam orang melakukan JAPA MANTRA dan Doa Bersama, kegiatan ini merupakan kegiatan rutin setiap hari kamis yang bertujuan untuk meningkatkan Sradha Bhakti dan keselamatan Bangsa dan Negara.

Om Shanti, Shanti, Shanti Om



31 Juli 2025

JAPA Mantra dan Doa Bersama

 

#Salam_SahabatReligi

Om Swastyastu, 

Suasana penuh Hidkmat dikantor Kementerian Agama Kabupaten Muna Barat, Kegiatan rutin setiap hari kamis Satker Penyelenggara Hindu melakukan kegiatan JAPA Mantra dan Doa Bersama diruangan Kerja Penyelenggara Hindu.

Kegiatan ini sebagai bagian dari upaya pembinaan spiritual, pelestarian nilai-nilai keagamaan dan meningkatkan Sradha dan Bhakti.

Om Shanti, Shanti, Shanti Om

 


30 Juli 2025

Sosialisasi Pendirian Widyalaya & Penyerahan Bantuan Operasional Lembaga Hindu




 Salam #SahabatReligi

Om Swastyastu, 

Penyelenggara Hindu Kementerian Agama Kabupaten Muna Barat melakukan Sosialisasi tentang pendidikan formal Agama Hindu (Widyalaya) di Desa Suka Damai Kec. Tiworo tengah Kab. Muna Barat

        Muna Barat, 29 Juli 2025 - Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Muna Barat, H. Khalifah di dampingi dengan Plt. Penyelenggara Hindu yang sekaligus menjabat sebagai Kasubbag TU Kantor Kementerian Agama Kabupaten Muna Barat, Fajar Toona beserta staf Satker Penyelenggara Hindu hadir di Desa Suka Damai dalam rangka sosialisasi pendirian pendidikan formal Agama Hindu (Widyalaya) pertemuan ini membahas dan memperkuat kembali tentang Pendidikan formal Hindu (Widyalaya) dalam pembahasan sosialisasi ini mengacu pada Juknis Nomor 67 tahun 2024 tentang Pedoman Pengelolaan Widyalaya, Juknis 63 Tahun 2024 Juknis Pendirian Widyalaya oleh masyarakat, dan PMA No.2 Tahun 2024 tentang Penyelenggaraan Pendidikan Widyalaya.

        Pertemuan ini dihadiri oleh beberapa Lembaga Keagamaan Hindu yaitu Ketua Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Muna Barat, Ketua Lembaga Pengembangan Dharma Gita (LPDG) Kabupaten Muna Barat, Ketua PHDI di masing-masing Desa lingkup Kabupaten Muna Barat, ketua Adat di masing-masing Desa Lingkup Kabupaten Muna Barat, Lembaga WHDI di Desa Suka Damai dan tokoh-tokoh Umat Hindu yang berada di Lingkup Kabupaten Muna Barat, Dalam pertemuan ini sangat disambut baik oleh tokoh-tokoh Umat Hindu, Kepala Kantor dalam sambutannya menyampaikan bahwa pendirian Widyalaya merupakan salah satu bentuk komitmen dan wujud hadirnya pemerintah dalam mendukung penguatan Lembaga Pendidikan Keagamaan Hindu yang berorientasi pada peningkatan kualitas pendidikan spiritual lebih lanjut, beliau menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, tokog agama, dan masyarakat dalam mendukung keberadaan dan perkembangan lembaga pendidikan keagamaan Hindu di Muna Barat.

I Gusti Ngurah Suartana yakni selaku Ketua LPDG "sudah sejak lama menunggu momen yang seperti ini, dimana bukti Pemerintah sudah memperhatikan bagi umat minoritas terutama dibidang pendidikan formal" ujar beliau. 

        Pada kesempatan yang sama, dilakukan juga penyerahan secara simbolis bantuan dana operasional kepada PHDI dan LPDG kabupaten Muna Barat sebagai bentuk dukungan nyata terhadap program-program keagamaan dan pembinaan Umat. penyerahan Bantuan secara simbolis ini diterima langsung oleh Ketua PHDI dan Ketua LPDG Kabupaten Muna Barat, Ketua PHDI Kabupaten Muna Barat, Kadek Resana mengungkapkan apresiasi atas perhatian dan bantuan dari Kementerian Agama serta berharap dukungan ini terus berkelanjutan dalam rangka memperkuat moderasi beragama, mempererat kebersamaan, dan menjaga harmoni antar umat beragama di kabupaten muna barat  

 Om Shanti,Shanti,Shanti Om

24 Juli 2025

JAPA Mantra dan Do'a Bersama

 

 

#Salam_SahabatReligi

 Om Swastyastu,

            Suasana Penuh Hidkmat di Kantor Kementerian Agama Kabupaten Muna Barat, kegiatan rutin setiap hari kamis Satker Penyelenggara Hindu melakukan kegiatan JAPA Mantra dan Doa Bersama diruangan kerja Penyelenggara Hindu. 

            Kegiatan ini sebagai bagian dari upaya pembinaan spiritual, pelestarian nilai-nilai keagamaan dan meningkatkan sradha dan bhakti.

Om Shanti, Shanti, Shanti Om

Kamis, 24 Juli 2025 

17 Juli 2025

SOSIALISASI WIDYALAYA

 

Salam #SahabatReligi

Om Swastyastu, 

    Plt. Satker Penyelenggara Bimas Hindu Fajar Toona,S.Ag.,MA yang sekaligus Kasubbag TU Kantor Kementerian Agama Kabupaten Muna Barat menghimbau dan memberikan tugas kepada staf Penyelenggara Hindu yang berjumlah 6 orang yang dimana 1 orang sebagai Penyuluh Agama Hindu - Ahli Pertama, 1 orang Jabatan sebagai Penata Layanan Operasional, 1 orang Jabatan sebagai Pranata Komputer-Ahli Pertama, dan 3 orang sebagai Pengadministrasi Perkantoran.

    Dimana tugas yang diberikan yaitu mendirikan sekolah formal Hindu ( Widyalaya ), tugas tersebut telah dilaksanakan sesuai arahan dari Plt. Penyelenggara Hindu. Yang dimana awal pertama dilakukan yaitu melakukan sosialisasi ke-masing-masing Desa Adat lingkup Kabupaten Muna Barat, sosialisasi pertama dilakukan di Desa Kasimpa Jaya kecamatan Tiworo Selatan, dihari kedua dan ketiga melakukan sosialisasi di Desa Wulanga Jaya Kecamatan Tiworo Kepulauan dan Desa Wapae Jaya Kecamatan Tiworo Tengah dan di hari terakhir melakukan sosialisasi di Desa Suka Damai Kecamatan Tiworo Tengah, dimana pada saat melakukan sosialisasi tokoh-tokoh dimasing Desa tersebut sangat mendukung dan menyambut baik akan diadakannya Sekolah Formal Hindu ( Widyalaya ) semua tokoh Hindu siap membantu dan mengarahkan kemasing-masing Umat/Masyarakat nya di Desa setempat.

Om Shanti, Shanti, Shanti Om 

26 Juni 2025

JAPA MANTRA DAN DO'A BERSAMA PENYELENGGARA HINDU MUNA BARAT

 


        Salam #SahabatReligi

        Penyelenggara Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Muna Barat gelar JAPA Mantra dan Do'a Bersama untuk keselamatan Bangsa dan Negara, kegiatan ini sebagai bagian dari upaya pembinaan Spiritual dan Pelestarian  nilai-nilai Keagamaan.
kegiatan ini merupakan dari program rutin setiap hari kamis pada satker Bimas Hindu

Kamis, 26 Juni 2025

25 Juni 2025

JAPA Mantra dan Do'a Bersama

 


Salam #SahabatReligi

Satuan Kerja Penyelenggara Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Muna Barat perdana melaksanakan Kegiatan JAPA Mantra dan Do'a Bersama untuk keselamatan Bangsa dan Negara bertempat di Ruang Kerja Penyelenggara Hindu.

Kegiatan JAPA Mantra ini akan dilaksanakan setiap hari kamis pagi guna meningkatkan Sradha dan Bhakti dan memperdalam keimanan Jasmani dan Rohani.

kamis, 19 Juni 2025
  

25 Agustus 2016

Mantram Ista Dewata Berbasis Android

Gambaran Splash Aplikasi Mantram Ista Dewata Berbasis Android

Jika anda mau Download aplikasinya silahkan KLIK DISINI
jika sudah selesai download silahkan install aplikasinya, dengan cara mencentang Unknown sources pada settingan keamanan (security) di smartphone anda, agar aplikasi yang akan anda install bisa terbuka.....
Selamat Mencoba Gess

16 Februari 2016

MAKNA GALUNGAN DAN KUNINGAN

Menurut lontar Purana Bali Dwipa disebutkan :
"Punang aci galungan ika ngawit bu, ka, dungulan sasih kacatur tanggal 25, isaka 804, bangun indra bhuwana ikang bali rajya".

artinya :
"Perayaan hari raya suci Galungan pertama adalah pada hari Rabu Kliwon, wuku Dungulan sasih kapat tanggal 15 (purnama) tahun 804 saka, keadaan pulau Bali bagaikan lndra Loka".
Mulai tahun saka inilah hari raya Galungan terus dilaksanakan, kemudian tiba-tiba Galungan berhenti dirayakan entah dasar apa pertimbangannya, itu terjadi pada tahun 1103 saka saat Raja Sri Eka Jaya memegang tampuk pemerintahan sampai dengan pemerintahan Raja Sri Dhanadi tahun 1126 saka Galungan tidak dirayakan. Dan akhirnya Galungan baru dirayakan kembali pada saat Raja Sri Jaya Kasunu memerintah, merasa heran kenapa raja dan para pejabat yang memerintah sebelumnya selalu berumur pendek. Untuk mengetahui sebabnya beliau bersemedi dan mendapatkan pawisik dari Dewi Durgha menjelaskan pada raja, leluhumya selalu berumur pendek karena tidak merayakan Galungan, oleh karena itu Dewi Durgha meminta kembali agar Galungan dirayakan kembali sesuai dengan tradisi yang berlaku dan memasang penjor.

Rangkaian Hari Raya Galungan dan Kuningan
Persiapan perayan hari raya Galungan dimulai sejak Tumpek Wariga disebut juga Tumpek Bubuh, pada hari ini umat memohon kehadapan Sanghyang Sangkara, Dewanya tumbuh tumbuhan agar Beliau menganugrahkan supaya hasil pertanian meningkat. Setelah itu wrespati Sungsang adalah hari Sugihan Jawa merupakan pensucian bhuwana agung dilaksanakan dengan menghaturkan pesucian mererebu di Merajan, pekarangan, rumah serta menyucikan alat-alat untuk hari raya Galungan. Besoknya Sukra Kliwon Sungsang disebut hari Sugihan Bali, pada hari ini kita melaksanakan penyucian bhuwana alit, mengheningkan pikiran agar hening, heneng dan metirta gocara. Selanjutnya Redite Paing Dungulan disebut penyekeban.
Pada hari ini adalah hari turunnya Sang Kala Tiga Wisesa, maka pada hari ini para wiku dan widnyana meningkatkan pengendalian diri (anyekung adnyana). Besoknya Soma Pon Dungulan disebut penyajaan pada hari ini tetap menguji keteguhan sebagai bukti kesungguhan melakukan peningkatan kesucian diri seperti yoga semadi. Selanjutnya Anggara Wage Dungulan disebut penampahan melakukan bhuta yadnya ring catur pate atau lebuh di halaman rumah, agar tidak diganggu Sang Kala Tiga Wisesa. Besoknya Buda Kliwon Dungulan disebut Hari Raya Galungan umat Hindu melakukan pemujaan kepada Tuhan dengan segala manifestasi-Nya. Wrespati Umanis Dungulan disebut Manis Galungan, umat saling kunjung-mengunjungi dan maaf-memaafkan. Selanjutnya Saniscara Pon Dungulan disebut pemaridan guru pada hari ini umat melaksanakan tirta gocara, Redite Wage Kuningan disebut ulihan kembalinya Dewa dan Pitara kekahyangan.
Selanjutnya Soma Kliwon Kuningan disebut Pemacekan Agung Dewa beserta pengiringnya kembali dan sampai ketempat masing-masing. Sukra Wage Kuningan disebut Penampahan Kuningan adalah persiapan untuk menyambut hari Raya Kuningan. Besoknya Saniscara Kliwon Kuningan hari Raya Kuningan, pada hari ini umat Hindu memuja Tuhan dengan segala manifestasinya. Upacara menghaturkan saji hendaknya.dilaksanakan jangan sampai lewat tengah hari, mengapa ? Karena pada tengah hari para Dewata diceritakan kembali ke swarga. Kemudian yang paling akhir dari rangkaian hari raya Galungan yaitu Buda Kliwon Pahang disebut pegat uwakan akhir dari pada melakukan peberatan Galungan sebagai pewarah Dewi Durga kepada Sri Jaya Kasunu ditandai dengan mencabut penjor kemudian dibakar, abunya dimasukkan kedalam bungkak gading ditanam di pekarangan.

Makna Hari Raya Galungan dan Kuningan
Dharma dan Adharma Pada hari raya suci Galungan dan Kuningan umat Hindu secara ritual dan spiritual melaksanakannya dengan suasana hati yang damai. Pada hakekatnya hari raya suci Galungan dan Kuningan yang telah mengumandang di masyarakat adalah kemenangan dharma melawan adharma. Artinya dalam konteks tersebut kita hendaknya mampu instrospeksi diri siapa sesungguhnya jati diri kita, manusia yang dikatakan dewa ya, manusa ya, bhuta ya itu akan selalu ada dalam dirinya. Bagaimana cara menemukan hakekat dirinya yang sejati?, "matutur ikang atma ri jatinya" (Sanghyang Atma sadar akan jati dirinya).
Hal ini hendaknya melalui proses pendakian spiritual menuju kesadaran yang sejati, seperti halnya hari Raya Galungan dan Kuningan dari hari pra hari H, hari H dan pasca hari H manusia bertahan dan tetap teguh dengan kesucian hati digoda oleh Sang Kala Tiga Wisesa, musuh dalam dirinya, di dalam upaya menegakkan dharma didalam dirinya maupun diluar dirinya. Sifat-sifat adharma (bhuta) didalam dirinya dan diluar dirinya disomya agar menjadi dharma (Dewa), sehingga dunia ini menjadi seimbang (jagadhita). Dharma dan adharma, itu dua kenyataan yang berbeda (rwa bhineda) yang selalu ada didunia, tapi hendaknyalah itu diseimbangkan sehingga evolusi didunia bisa berjalan.
Kemenangan dharma atas adharma yang telah dirayakan setiap Galungan dan Kuningan hendaknyalah diserap dan dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari. Dharma tidaklah hanya diwacanakan tapi dilaksanakan, dalam kitab Sarasamuccaya (Sloka 43) disebutkan keutamaan dharma bagi orang yang melaksanakannya yaitu :
"Kuneng sang hyang dharma, mahas midering sahana, ndatan umaku sira, tan hanenakunira, tan sapa juga si lawanikang naha-nahan, tatan pahi lawan anak ning stri lanji, ikang tankinawruhan bapanya, rupaning tan hana umaku yanak, tan hana inakunya bapa, ri wetnyan durlaba ikang wenang mulahakena dharma kalinganika".

Artinya:
Adapun dharma itu, menyelusup dan mengelilingi seluruh yang ada, tidak ada yang mengakui, pun tidak ada yang diakuinya, serta tidak ada yang menegur atau terikat dengan sesuatu apapun, tidak ada bedanya dengan anak seorang perempuan tuna susila, yang tidak dikenal siapa bapaknya, rupa-rupanya tidak ada yang mengakui anak akan dia, pun tidak ada yang diakui bapa olehnya, perumpamaan ini diambil sebab sesungguhnya sangat sukar untuk dapat mengetahui dan melaksanakan dharma itu.
Di samping itu pula dharma sangatlah utama dan rahasia, hendaknyalah ia dicari dengan ketulusan hati secara terus-menerus. Sarasamuccaya (sloka 564) menyebutkan :
"Lawan ta waneh, atyanta ring gahana keta sanghyang dharma ngaranira, paramasuksma, tan pahi lawan tapakning iwak ring wwai, ndan pinet juga sire de sang pandita, kelan upasama pagwan kotsahan".
Artinya:
Lagi pula terlampau amat mulia dharma itu, amat rahasia pula, tidak bedanya dengan jejak ikan didalam air, namun dituntut juga oleh sang pandita dengan ketenangan, kesabaran, keteguhan hati terus diusahakan.
Demikianlah keutamaan dharma hendaknyalah diketahui, dipahami kemudian dilaksanakan sehingga menemukan siapa sesungguhnya jati diri kita. (WHD No. 436 Juni 2003).


Macam - Macam Galungan
A. Galungan
Di dalam lontar Sundarigama menyebutkan pada Buda Kliwon wuku Dungulan disebut hari raya Galungan.
B. Galungan Nadi
Apabila Galungan jatuh pada bulan Purnama disebut Galungan Nadi, umat Hindu melaksanakan tingkatan upacara yang lebih utama. Berdasarkan Lontar Purana Bali Dwipa bahwa Galungan jatuh pada sasih kapat (kartika) tanggal 15 (purnama) tahun 804 saka Bali bagaikan lndra Loka ini menandakan betapa meriahnya dan sucinya hari raya itu.
C. Galungan Naramangsa.
Dalam Lontar Sanghyang Aji Swamandala mengenai Galungan Naramangsa disebutkan apabila Galungan jatuh pada Tilem Kapitu dan sasih Kasanga rah 9, tengek 9, tidak dibenarkan merayakan hari raya Galungan dan menghaturkan sesajen berisi tumpeng seyogyanya umat mengadakan caru berisi nasi cacahan dicampur ubi keladi, bila melanggar akan diserbu oleh Balagadabah.


sumber :
Parisada Hindu Dharma Indonesia